Segala puji saya panjatkan untukMu tuhan semesta alam. Alam cinta. Cinta tak bertakar. Cinta yang dihembuskan dengan semilirnya. Cinta yang tak sanggup ku melampaui bahkan untuk sekedar membayangkannya. Terimakasih sangat begitu banyak nan tak terkira untuk memberi kesempatan padaku dalam merasakan CintaMu, sampai aku pun kuasa menuliskan ucapan terimakasih ini. Dengan CintaMu itu kau hadirkan pula para Penuntun kami. Para penyampai pesanMu. Pembela kami di hari keadilan nanti. Sungguh aku berterimakasih atas keikhlasan cintamu wahai kasihNya.
Atas cintaMu Sepasang sejoli terus menyatu walau terpisah secara kasat karena panggilan cintaMu. Aku sungguh rindu ketika ku rebahkan kepala ini di pangkuannya dan dengar cerita-cerita pengalaman sepenggal hidupnya yang menurutku begitu inspiratif walau dirinya sendiri tak mengerti arti “inspiratif” dan ceritanya membuat ku terus bertanya-tanya yang sampai akhirnya selalu tertawa lepas dibuatnya. Ia ajarkan aku untuk selalu ikhlas, “lillahi taala” perkataannya yang selalu terngiang. Terimakasih untuk semangkok ‘mie rebus’ dikala aku pulang, sesendok sambal yang membuatku rela menunggu, dan terimakasih sekali untuk air matamu yang membuatku mengenal arti menangis. Dan pasanganmu, Sang otot kekarnya yang selalu ku kagumi, memberi ketenangan perpanjangan hidup kami. Senyumannya itu selalu ku ingat walau dibalut ketegasannya. Ahh sungguh indah. Aku ingin ucapkan Terimakasih banyak atas kebanggaanmu padaku yang tak sempat aku sampaikan bahkan sampai terakhir saat ku cium kening mu. Aku anggap itu tak terpikir, ya memang, tapi lebih tepatnya malu pada waktu-waktu lalu, kebodohan. “terimakasih banyak Pa”.
Tak terpikirkan jika aku menjadi orang tersendiri. Aku sampaikan juga terimakasih ku atas serantai aliran darahku. Terimakasih atas pelototannya sehinnga aku tak lagi ’terbata-bata’, terimakasih kesabaranmu menemaniku dalam keadaan takut –jika aku tak berani tidur sendiri. Terimakasih selalu menantangku bermain permainan kesukaanku, yang kadang aku kasihan terkena ’semprot’ kamu akibatnya. Terimakasih telah mengajakku nonton perdana di hidupku sehingga membuatku seakan orang ’tergaul’. Terimakasih juga untuk ketertundaan hasrat besarmu akibat hasrat ku karena mengantarkanku ke kampus dengan sepeda motormu. Kecekatanmu dalam memasang lampu karena aku tak terjangkau, dan curhat colonganmu lewat celotehanmu yang buat telingaku panas. Terimakasih ku sampaikan pula untuk ’teteh’ tiga yang tak sempat ku sapa sepatah katapun, ”aku harap kamu nanti suapin aku makan”.
Terimakasih. ’Waterboys’ ! film itu membuat kita terpingkal di malam hari. Efeknya kita selalu ingin bersama. ’de Dulur’ kita nobatkan. Lantunan Bento ”. ..yang penting asyik, sekali lagi asyik. ..” membuat kita merasa menjadi pria-pria idaman dalam bungkusan ”deu Amburadulz”. Dalam naungan ’297’ kita berkeringat dan ajari hidup kampungan yang sok ’gaul’. Kita bertaruh dan kita makan bersama. Kita jadi sok-sok politikus, sejarahwan, seniman, ilmuwan, dan menjadi kata-kata yang berakhiran –wan. ’Haturnuhun’. Telah memberiku bingkisan dihari jadiku. Telah rela ku pegang kulit tanganmu.
Terimakasih-terimakasih. Iw kenalan pertama terjauhku, kisahmu membuatku ingin menjadi transmigran. Juwita terimakasih kripikmu menjadi lauk di makanku. ”MJ bagaimana kabar keluargamu?”, keramahanmu selalu buat aku iri. Untuk si kurus yang ternyata perutnya buncit juga, terimakasih jaketnya, memang dingin waktu itu. Para pasukankecil ’pembenci’ku, lingling, qis, dinghe, ney, mar, att, si kribo,-kribo, tata, dan repa, untuk jajanan cemilan kalian yang selalu ku serobot paksa. Si abang ’teteh’ angkat sepihakku, yang mengalahkan kecantikanku, kepercayaanmu membuatku tambah gila –dibaca ’berani’. ”Tau aja bos kalu aku lagi ’kanker’ asiiyk makan” , makasih BigBoz kedermawananmu selalu kuterima dengan senanghati. Para seperjuanganku sekarang ini, ”siapa lagi yang ulang tahun?”, terimakasih telah saling menularkan ’kegilaannya’, ’tawaannya’, ’contekannya’, ’info jalannya’, sampai ’kegeerannya’. . .
. . .
Terimakasih amat sangat begitu atas segala hal setelah sedang dan sebelumnya. Teringat, terlupakan, ataupun teringat yang terlupakan. Semoga terimakasih-terimakasih selalu menghamipiri dan menyadari kita.
Terimakasih,
Arg
***
teruntuk pepei. terimakasih sebotol minuman ionnya.
Senin, 22 November 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar