Sabtu, 18 Desember 2010

catatan 'kilas' himasiera

Bismillahirrohmanirrohim

Assalamualaikumwarohmatullahiwabarokatuh

HIDUP RAKYAT !!!

Dinamika pergerakan globalisasi dalam berbagai bidang kehidupan sepertinya memang sudah sulit untuk dibendung. Dengan demikian hal ini sepatutnya disikapi dengan bijak. Institut Pertanian Bogor ,sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi di Indonesia, memiliki andil besar dalam menyikapi persoalan ini. Jika mengutip dosen kita Fredian Tonny Nasdian (2010) ”IPB dalam menghadapi kecenderungan perubahan mendasar (globalisasi dan demokratisasi) dituntut mengeluarkan ‘output’ yang berorientasi keilmuan, professional yang memiliki kemampuan interdisiplin maupun transdisiplin, mampu mengembangkan inovasi serta membantu masyarakat memecahkan masalah-masalah dalam mencapai kesejahteraan hidupnya”. Tentu hal tersebut, seperti yang dikutip, bukan merupakan hal instan untuk diraih. Diperlukan langkah-langkah yang komprehensif dan kolaboratif, melibatkan berbagai pihak stakeholders secara aktif. Tidak hanya menjadikan perkulihan di dalam kelas sebagai satu-satunya inti kegiatan akademik.

HIMASIERA (Himpunan Mahasiswa Peminat Ilmu-Ilmu Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat) sebagai bagian dari kerangka kelembagaan di IPB juga memiliki tanggung jawab yang mesti terintegrasi dengan tujuan IPB tersebut. Hal ini terkait bahwa himpunan keprofesian juga memiliki peranan strategis dalam upaya untuk mewujudkan hal tersebut. Bagaimana profesionalitas yang menjadi landasannya diharapkan mampu menghasilkan ‘output’ kegiatan atau tindakan yang professional. Kegiatan profesionalitas yang dimaksud merupakan bagian dari proses-proses dalam membangun masyarakat dengan aksi-aksi komunikatif. Tentu hal tersebut tercipta dengan proses panjang dan berliku-liku. Namun perlu diakui bahwa HIMASIERA- tanpa mengesampingkan MISETA sebagai organisasi pendahulunya- sebagai wadah organisasi mahasiswa yang masih tergolong muda, pada prakteknya lebih menjadikan proses panjang tersebut sebagai sarana pembelajaran yang tepat saat kita masih ber’status’ mahasiswa dan berorganisasi. Dengan bekal sebagai Mahasiswa Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, kita berupaya untuk ‘membumikan ilmu’. Ilmu-ilmu yang kita terima di bangku kuliah coba kita aplikasikan dalam realita kehidupan sehari-hari. Jika mengutip Guru Besar Sajogyo disebutkan sebagai proses “dari praktek keteori dan kepraktik yang berteori”. Proses yang tak henti itu merupakan sebuah proses pembelajaran berharga bagi kita sebagai mahasiswa. Proses pembelajaran dalam menyikapi hal-hal yang terjadi dengan kritis. Proses pembelajaran dalam menemukan jati diri/ karakter kita sebagai manusia seutuhnya. Proses yang pada akhirnya selalu menjadikan kita manusia pembelajar.

Kepengurusan HIMASIERA 2010 telah satu tahun mengarungi bahtera keorganisasian. Sebuah dimensi waktu yang tidak bisa juga dikatakan singkat namun dalam pelaksanaannya terasa cepat. Upaya-upaya untuk menuju proses seperti yang dijabarkan di atas sebenarnya selalu diusahakan. Ketercapaian visi organisasi memang masih jauh dari yang diharapkan. Jika bisa lantang dikatakan “dosa” terbesar dalam kepengurusan ini bagaimana belum terbentuknya sebuah sistem berorganisasi yang mengakar dan menjadi karakter organisasi. Pengembangan kelembagaan belum dapat menjawab dari apa sebenarnya kebutuhan setiap elemen anggota dan diterjemahkan menjadi kebutuhan organisasi. Seperti mengutip dari salah satu dosen kita Lala Kolopaking, mengenai kelembagaan yaitu: (1) perwujudan internalisasi nilai sosial, peraturan dan norma untuk mengatur mekanisme pemenuhan kebutuhan manusia, dan (2) tata-kelola hubungan antar pihak (antar pribadi, pribadi dengan kelompok/organisasi, antar kelompok/organisasi). Selain itu, peran strategis sebuah kelembagaan menurut Commons yaitu “proses-proses informal dan formal guna mencapai kepentingan bersama”. Jika kita tarik kesimpulan dari dua pernyataan ahli sosial tersebut maka, bahwa pemenuhan kebutuhan merupakan harga mati bagi sebuah kelembagaan. Menjadi menarik, dan pertanyaannya apakah HIMASIERA sebagai sebuah kelembagaan telah mampu memenuhi hal tersebut?. Saya akui ini merupakan sebuah tamparan bagi kepengurusan tahun 2010 ini dan saya bertanggung jawab besar selaku pimpinan tertinggi organisasi . Langkah bijak menjawabnya tentu bagaimana kita mengetahui dan memenuhinya secara bersama-sama agar pembelajaran partisipatif benar-benar dapat kita terapkan. Dalam proses pembelajaran selalu dikenal kesalahan-kesalahan sebagai wujud penemuan kebenaran dan oleh karenanya hal tersebut dapat dipahami. Dan HIMASIERA sebagai organisasi pembelajar mengalami hal tersebut. Hal inilah yang telah banyak memberikan coretan penuh warna, khususnya untuk diri saya dalam proses pengembangan kepribadian dan pendewasaan berpikir saya.

Sebagai penghujung sambutan ini saya ucapkan terima kasih sekaligus permintaan maaf sebesar-besarnya kepada kawan-kawan semua yang telah terlibat dan mendukung HIMASIERA setahun ini. Kepada BPH (badan pengurus harian) sekretaris dan bendahara, yang telah menemani saya terutama dalam mengatur masalah sekretariatan dan keuangan, serta tak jarang banyak berurusan dengan saya dan juga pihak-pihak lain hingga menguras energi, otak dan emosi. Para Manager yang dengan gigih menjadi motor organisasi, mengayomi staf-stafnya dan juga sering menerima instruksi-instruksi frontal dari saya. Para staf yang dengan ikhlas membangun HIMASIERA untuk menjadi wadah belajar bersama. Para anggota, seluruh mahasiswa Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat sebagai proporsi terbesar dalam organisasi ini atas dukungan tiada hentinya. Para alumni atas arahan-arahannya konstruktifnya. Para dosen Dept. SKPM, Dekanat Fak. FEMA, dan IPB atas bimbingan dengan penuh sabarnya dalam merespon beragam kegiatan HIMASIERA. Kepada seluruh staf tata usaha, prasarana dan sarana, satpam dan staf pendukung lainnya dalam Dept. SKPM, Fak. FEMA maupun Departemen-departemen lainnya yang sering kali kami repotkan untuk memenuhi keinginan kami. Kepada Lembaga Kemahasiswaan lingkup FEMA dan IPB atas sumbangsih ide dan semangat pergerakannya. Pada seluruh instansi yang pernah terlibat bekerja sama dengan HIMASIERA atas bantuan materil maupun non-materilnya. Dan Kepada seluruh pihak- unsur yang berandil besar bagi pengembangan HIMASIERA. Terima kasih banyak.


Dramaga, 19 Desember 2010

Salam hangat,


Rajib Gandi

Senin, 22 November 2010

Ucapan terimakasih

Segala puji saya panjatkan untukMu tuhan semesta alam. Alam cinta. Cinta tak bertakar. Cinta yang dihembuskan dengan semilirnya. Cinta yang tak sanggup ku melampaui bahkan untuk sekedar membayangkannya. Terimakasih sangat begitu banyak nan tak terkira untuk memberi kesempatan padaku dalam merasakan CintaMu, sampai aku pun kuasa menuliskan ucapan terimakasih ini. Dengan CintaMu itu kau hadirkan pula para Penuntun kami. Para penyampai pesanMu. Pembela kami di hari keadilan nanti. Sungguh aku berterimakasih atas keikhlasan cintamu wahai kasihNya.

Atas cintaMu Sepasang sejoli terus menyatu walau terpisah secara kasat karena panggilan cintaMu. Aku sungguh rindu ketika ku rebahkan kepala ini di pangkuannya dan dengar cerita-cerita pengalaman sepenggal hidupnya yang menurutku begitu inspiratif walau dirinya sendiri tak mengerti arti “inspiratif” dan ceritanya membuat ku terus bertanya-tanya yang sampai akhirnya selalu tertawa lepas dibuatnya. Ia ajarkan aku untuk selalu ikhlas, “lillahi taala” perkataannya yang selalu terngiang. Terimakasih untuk semangkok ‘mie rebus’ dikala aku pulang, sesendok sambal yang membuatku rela menunggu, dan terimakasih sekali untuk air matamu yang membuatku mengenal arti menangis. Dan pasanganmu, Sang otot kekarnya yang selalu ku kagumi, memberi ketenangan perpanjangan hidup kami. Senyumannya itu selalu ku ingat walau dibalut ketegasannya. Ahh sungguh indah. Aku ingin ucapkan Terimakasih banyak atas kebanggaanmu padaku yang tak sempat aku sampaikan bahkan sampai terakhir saat ku cium kening mu. Aku anggap itu tak terpikir, ya memang, tapi lebih tepatnya malu pada waktu-waktu lalu, kebodohan. “terimakasih banyak Pa”.

Tak terpikirkan jika aku menjadi orang tersendiri. Aku sampaikan juga terimakasih ku atas serantai aliran darahku. Terimakasih atas pelototannya sehinnga aku tak lagi ’terbata-bata’, terimakasih kesabaranmu menemaniku dalam keadaan takut –jika aku tak berani tidur sendiri. Terimakasih selalu menantangku bermain permainan kesukaanku, yang kadang aku kasihan terkena ’semprot’ kamu akibatnya. Terimakasih telah mengajakku nonton perdana di hidupku sehingga membuatku seakan orang ’tergaul’. Terimakasih juga untuk ketertundaan hasrat besarmu akibat hasrat ku karena mengantarkanku ke kampus dengan sepeda motormu. Kecekatanmu dalam memasang lampu karena aku tak terjangkau, dan curhat colonganmu lewat celotehanmu yang buat telingaku panas. Terimakasih ku sampaikan pula untuk ’teteh’ tiga yang tak sempat ku sapa sepatah katapun, ”aku harap kamu nanti suapin aku makan”.

Terimakasih. ’Waterboys’ ! film itu membuat kita terpingkal di malam hari. Efeknya kita selalu ingin bersama. ’de Dulur’ kita nobatkan. Lantunan Bento ”. ..yang penting asyik, sekali lagi asyik. ..” membuat kita merasa menjadi pria-pria idaman dalam bungkusan ”deu Amburadulz”. Dalam naungan ’297’ kita berkeringat dan ajari hidup kampungan yang sok ’gaul’. Kita bertaruh dan kita makan bersama. Kita jadi sok-sok politikus, sejarahwan, seniman, ilmuwan, dan menjadi kata-kata yang berakhiran –wan. ’Haturnuhun’. Telah memberiku bingkisan dihari jadiku. Telah rela ku pegang kulit tanganmu.

Terimakasih-terimakasih. Iw kenalan pertama terjauhku, kisahmu membuatku ingin menjadi transmigran. Juwita terimakasih kripikmu menjadi lauk di makanku. ”MJ bagaimana kabar keluargamu?”, keramahanmu selalu buat aku iri. Untuk si kurus yang ternyata perutnya buncit juga, terimakasih jaketnya, memang dingin waktu itu. Para pasukankecil ’pembenci’ku, lingling, qis, dinghe, ney, mar, att, si kribo,-kribo, tata, dan repa, untuk jajanan cemilan kalian yang selalu ku serobot paksa. Si abang ’teteh’ angkat sepihakku, yang mengalahkan kecantikanku, kepercayaanmu membuatku tambah gila –dibaca ’berani’. ”Tau aja bos kalu aku lagi ’kanker’ asiiyk makan” , makasih BigBoz kedermawananmu selalu kuterima dengan senanghati. Para seperjuanganku sekarang ini, ”siapa lagi yang ulang tahun?”, terimakasih telah saling menularkan ’kegilaannya’, ’tawaannya’, ’contekannya’, ’info jalannya’, sampai ’kegeerannya’. . .
. . .

Terimakasih amat sangat begitu atas segala hal setelah sedang dan sebelumnya. Teringat, terlupakan, ataupun teringat yang terlupakan. Semoga terimakasih-terimakasih selalu menghamipiri dan menyadari kita.




Terimakasih,



Arg



***
teruntuk pepei. terimakasih sebotol minuman ionnya.

tingkat emp4t

and you know you shoul be glad

berkamar dengan marxis, stalin, webber, smith, sampai einsten 2010

saya dengar igonya, saya cium ilernya, dan saya tau bagaimana caranya memejam

rutin ini berotasi tanpa dinding berongga sebagai ventilasinya

kutukan setiap ego pikir akhirnya tertumpuk

menunggu sortiran tanpa mesin pemilah

dengan bubuk mesiu sudah berkibar menyambut para pemadam menyantapnya

1+1 harus tetap dua

dan 1 + 2 mungkin hanya kemungkinan

semuanya tetap sendiri

semuanya ketersambungan

di line imajinernya

di

untukmu

sahabatku di minang

berteman tanpa centang

untukku

sahabatmu di minang

bergaul dengan tenang

untukmuuntukku

sahabatkusahabatmu

di minang

saya tunggu pinangan

wahai minang sahabat

ku dan mu


12-oktober-2010
2:12